Oleh : Ust. Rofiq Abidin (Direktur LAZ Persada)

Budaya Unjung-unjung merupakan kebiasaan masyarakat Indonesia pada saat lebaran, tepatnya setelah sholat idul fitri. Saling bersilaturrohim, saling memaafkan. Merupakan perihal yang terus dibangun untuk memupuk rasa kebersamaan dan kerukunan.

Bulan tanpa alasan seseorang saling bersilaturrohim. Namun ada nilai yang hendak dibangun dalam tradisi kebaikan atau sunnah hasanah itu. Memang saling memaafkan tidak harus pada saat lebaran, namun dengan budaya unjung-unjung itu setidaknya menjadi syiar kebaikan yang dapat diteruskan oleh generasi muda selanjutnya.

Coba kita tengok beberapa nilai yang terbangun dalam budaya unjung-unjung itu :

  1. Ora kepaten obor

Saling bersilaturrohim kepada kerabat terdekat, menjadikan anak-anak yang belum kenal sanak saudaranya menjadi kenal. Kenapa? karena dalam momentum itu orang tua mengenalkan, memberikan pengertian tentang sanak saudaranya dari pihak ayahnya maupun ibunya sampai garis ke atas. Sehingga ora kepaten obor (tidak kehilangan garis keturunan).

  1. Lego lilo

Saling melebur dalam permaafan sesama saudara, teman, rekan kerja bahkan yang mungkin pernah berselisih. Dengan saling memaafkan maka lego lilo (lapang dada/rela).

  1. Syi’ ar

Dengan budaya unjung-unjung, otomatis menjadi syi’ar islam tersendiri, bahwa muslim itu saling bersatu dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Setidaknya tiga nilai yang akan menjadi perekat budaya unjung-unjung ini. Maka umat Islam setelah menunaikan ujian puasa yang penuh dengan nilai-nilai spiritual hablum minallah dengan sholat tarowih, zakat, maupun puasa itu sendiri. Maka, selanjutnya disambung dengan hablum minannas dengan saling memaafkan. Maka, jiwa yang telah terlatih yang disempurnakan dengan melapangkan diri untuk memaafkan. Jiwa itu menjadi jiwa yang baru, jiwa yang lapang hati, bersih dari dosa, setelah kembali suci dengan serangkaian aktifitas ibadah. Inilah Jiwa yang Baru Jiwa yang telah tertempa dengan puasa, zakat, sholat, tadarus dan kemudian disempurnakan dengan saling memaafkan. Betapa jiwa ini menjadi jiwa yang baru. Maka dari itu jiwa yang baru itu akan memiliki :

  1. Spirit ibadah

Yakinkan bahwa setelah mengikuti serangkain ujian pada Bulan Ramadhan, semangat untuk ibadah itu masih segar. Suasana ibadah yang terbangun selama sebulan masih segar dirasakan, mulai dari tarowih, tadarus, sahur hingga buka puasa. Jiwa yang baru itu akan mudah terstimulan untuk ibadah dikemudian hari.

  1. Lapang dada

Saling memaafkan kepada sesama, mulai dari keluarga, kerabat dekat hingga teman. Baik secara langsung maupun online, menjadi pelapang dada yang mungkin sempat tak terkendali. Maka, jiwa yang baru itu akan lapang dada ketika menghadapi ujian selanjutnya.

  1. Perisai

Telah terbangun selama sebulan perisai jiwa melalui puasa, dengan menahan syahwat dan godaan, baik lisan, mata, perilaku maupun pikiran. Maka, jiwa yang baru akan memiliki ketebalan perisai kuat untuk menahan serangan sahwat pada bulan berikutnya.

Setidaknya tiga hal ini yang akan dirasakan seseorang yang telah melewati masa puasa sebulan dan disambung dengan saling memaafkan. Inilah jiwa yang baru itu, jiwa yang memiliki spirit ibadah yang kuat, jiwa yang ikhlas menerima berbagai ujian dan jiwa yang kuat menahan godaan syahwat yang hadir menyapa tiap aktifitasnya. Jiwa yang baru, jiwa yang telah melewati berbagai dentum ujian dari berbagai penjuru, namun tetap tegak berdiri di atas jalan Alloh. Jiwa yang tak kunjung usai mensyukuri nikmat Alloh. Jiwa yang siap menghadapi tantangan bulan-bulan berikutnya tanpa takut karena merasa kehadiran Alloh Yang Maha Menolong dan Maha Besar.

#pesanilahiyah
#tausiyah
#kajianislami
#lebaran
#syawal