SUARAHATI.ORG | Ada fenomena mengejutkan, murid menantang guru, bahkan membunuh sang guru. Begitulah pergeseran zaman, Jika dulu ada istilah “guru kencing berdiri, murid kencing lari”. Pendapat ini sudah lama tak mncul lagi. Padahal betapa gambaran guru yang kalau dimaknakan “kencing berdiri” itu sebuah pelanggaran adab, dan diistilahkan murid kencing lari, itu sebuah pelanggaran adab yang lebih jauh. Pertanyaannya, apakah saat ini secara umum “kencing berdiri” menjadi sebuah pelanggaran adab? Meskipun itu hanya permisalan. Bahkan pada beberapa masjid ternyata menyediakan tempat kencing yang dalam posisi berdiri. Baiklah, itu pembahasan fiqih tersendiri.

Kita kembali kepada salah satu visi Sang Nabi adalah makarimul akhlak (menyempurnakan akhlak). Maknanya akhlak yang di dalamnya ada pelajaran adab, harus tetap menjadi poros tujuan dari pendidikan. Mengapa ? Bagaimana pintar tanpa akhlak, apa jadinya maju berfikir tapi moralitas adabnya merosot. Sehingga pintar korupsi, pintar mendalangi sebuah kejahatan, pintar rekayasa data, pintar berbohong dan kepintaran lainnya yang tak menghiraukan adab dan akhlak. Inilah kenapa para ulama klasik itu “mendahulukan adab sebelum ilmu”. Sebaiknya sebelum mengkaji kitab-kitab lainnya ada pelajaran kitab Tanbitul muta’allim, sehingga adab belajar, adab kepada guru dan adab terhadap Allah hingga adab memperlakukan ilmu itu sendiri dikuasai betul.

Pergeseran zaman, mengharuskan guru dan orang tua untuk kreatif memasukkan nilai-nilai adab, agar generasi ini tidak semakin jauh dari hakikat tujuan pendidikan itu sendiri yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Maknanya kehidupan yang penuh kemajuan peradaban, bukan hanya manusianya yang cerdas, tapi kehidupannya pun tercipta dinamisasi seiring kemajuan berfikir dan peradaban masyarakat. Membangunnya, mulai dari kehidupan yang paling medasar ialah keluarga, dengan beberapa aksi berikut ini :

  1. Tauladan adab, apapun yang kita inginkan dari generasi berilah tauladan agar tidak tumpul apa yang kita ucapkan.. 
  2. Men-tarbiyah, apa saja yang akan kita ajarkan sudah seharusnya diilmui agar lebih kokoh dan lebih langgeng. 
  3. Pembiasaan adab, membangun peradaban dan budaya positif sangat diperlukan pembiasan-pembiasaan adab, tanpa pembiasaan hanya akan lewat sebentar lalu hilang ditelan zaman yang semakin drastis berubah.

Berperadaban tak boleh luntur dari bangsa ini, karena beradab adalah bagian dari nilai dasar Negara Indonesia yang menjadi cita-cita bersama | SUARAHATI.ORG

 

 Oleh : Rofiq Abidin (Ketua Yayasan Suara Hati)

 

 

Silahkan Di Share, jika Artikel Ini Bermanfaat !
0Shares
0Shares