ATTARBIYAH

PENDIDIKAN ADALAH KESAN Oleh: Etty Sunanti, S. Th.I, M.Psi.

Saya sangat sepakat dengan Ustadz Bendri Jaisyurrohman, penulis buku Fatherman. Beliau mengatakan, “Pendidikan Adalah Kesan” Sehebat apapun seorang guru ataupun orang tua, kalau tidak mampu memberikan kesan

yang baik, maka sirnalah semua pendidikan yang diberikan.

Sekaya apapun harta orang tua, jika tidak mampu memberikan kesan yang menyentuh hati, maka harta yang melimpah itu, tidak akan mampu merubah situasi menjadi lebih baik. Bahkan yang adalah justru bencana dan fitnah.

Banyak orang tua, berkata, “Kamu nakal, sekolah bodoh, padahal bapak bela-belain kerja pagi siang malam demi kamu, tapi apa balasannya pada orang tua?”

Belum lagi, kalau seorang ibu yang bekerja, pulang pulang capek, bisanya marah,”Kamu nggak tau, mama ini capek, sibuk mencari uang buat biaya sekolah kamu, tetapi kamu malah enak-enak, malas hanya main HP melulu.”

Sebuah omelan yang nampaknya benar, tetapi sebenarnya salah kaprah. Cara pandang orang tua, yang belum mengerti cara mendidik anak yang sebenarnya. Omelan ketidakikhlasan, yang justru melukai perasaan anaknya.

Anak tidak membutuhkan harta berlimpah tetapi yang mereka butuhkan adalah keberadaan orang tua di saat mereka membutuhkan. Bagaimana kita mengingat guru-guru kita saat di sekolah dulu?

Apakah pelajarannya?

Ternyata rata-rata pada lupa semua, kecuali memang ilmu yang disampaikan digunakan dalam pekerjaan. Tetapi selebihnya, rata-rata masyarakat mengingat guru adalah sesuatu yang membuat kesan.

“Oh dosen bahasa Inggrisku dulu malas, tak pernah hadir mengajar.”

“Ya, guru matematika SMA kita dulu suaranya lembut banget, orangnya kalau ngomong sambil kedip kedip kan?”

“Ooh guru Fisika yang jahat, itu ya, yang suka marah-marah itu kan, gimana kabarnya pak fulan, sudah matikah?”

“Masya Allah guru Bahasa Indonesia itu, baik banget, aku pernah di belikan bakso, kok ya pas aku belum sarapan lapaar banget, ayoo ke rumah beliau yuuk..”

Atau celoteh anak-anak dari orang tua masa lalu, yang sudah besar dan dewasa. Kenangan orang tuanya selalu diingat, sampai tua bahkan sampai mati. Bagaimana kebaikan ibu, yang penuh maaf, bagaiman kesan masakan ibu yang nomor satu.

Bagaimana bapak yang pulang kerja bawa oleh oleh, bapak yang membantu membetulkan sepeda yang rusak.

Berbagai kesan orang tua itulah yang akan menjadikan anak anak tumbuh penuh hormat, penuh kasih sayang dan cinta. Mereka akan menjadi anak yang baik, lantaran memiliki orang tua yang baik.

Itulah kesan. Pendidikan adalah kesan. Seberapa kesan baik yang kita berikan, sebesar itulah perubahan baik akan terjadi.

Taruhlah, pelajaran exact semacam Matematika yang kerap sebagai momok bagi siswa, apakah perlu seorang guru memberikan kesan?

Jawabnya, iya perlu memberikan kesan. Seorang guru Matematika, harus mampu memberikan kesan, bahwa Matematika adalah mudah.

Ada banyak kisah, anak anak yang phobia terhadap Matematika, ternyata bisa mudah dan jatuh cinta dengan Matematika dikarenakan gurunya mampu memberikan kesan bahwa Matematika itu mudah.

Kemampuan memberi kesan ini lah yang sebenarnya esensi pendidikan.

Tidak salah, kalau bapak Anies Baswedan, mantan rektor Universitas Paramadina, pernah

mengatakan, bahwa pendidikan itu terletak pada kualitas guru, bukan kepada kurikulumnya. Percuma kurikulum di rubah terus menerus, jikalau gurunya tidak mampu memberikan pendidikan yang baik.

Kemampuan memberikan kesan kepada anak dan murid, terletak pada hati yang tulus ikhlash, karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Ketulusan ini lah yang akan memberikan keberkahan.

Orang yang tulus ikhlas, hidupnya tidak ada beban apa apa. Hanya ada kebaikan yang akan terpancar dalam dirinya.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Ali Imran ayat 159, sebagai berikut:

فيما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك ف أعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يُحِبُّ المتوكلين

Artinya:”Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap

mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat tersebut adalah sebuah metode memberikan pendidikan berupa kesan. Ada beberapa tahapan yang harus di perhatikan.

1. Sebagai pendidik wajib memiliki hati yang lemah lembut, penuh kasih sayang. Memiliki perhatian dan empati yang tinggi. Orang lain pasti akan senang, dan akan hormat. 2. Jangan berkata dan bersikap kasar dan keras. Karena siapapun pasti akan membenci bahkan lari menjauhi kita. Bahkan apabila ada kata dan sikap yang kasar, pasti akan

membuat orang lain tersinggung karena menyakiti hatinya.

3. Penuh maaf, dan senang memaafkan kekurangan orang lain. Sebagai pendidik, wajib

memiliki sifat memahami atau memaklumi orang lain, terutama anak didiknya. Namanya saja mereka proses belajar, pasti mereka belum faham dengan apapun yang sudah dipahami para pendidik. Orang tua atau guru, pasti sudah jauh di atas usia mereka. Pengalaman serta ilmunya jauh lebih banyak. Maka memaafkan yang di didik

adalah keniscayaan. Bermusyawarah memiliki makna berdiskusi, dengan pola menanyakan apakah

4. persoalan atau permasalahan yang sebenarnya, yang sedang di hadapi orang lain, anak atau siswa. Maka sangat pendidik harus memiliki kemampuan bertanya, dan memberikan solusi.” Nak, apa sebenarnya persoalan yang kamu hadapi, bolehkan ayah dan ibu membantumu?”

Masya Allah betapa senangnya anak, jika ada orang tua yang siap pasang badan untuk anak-anak nya. Bukannya malah sering menyalahkan, menuduh, dan memberikan amarah.

5. Berazzam atau berkomitmen untuk merubah menjadi lebih baik, dengan segala upaya positif. Ini adalah kata kunci, untuk mewujudkan perubahan dalam diri anak manusia, untuk berubah menjadi sesuai target uang di inginkan. Ada goal, yang harus terwujud.

6. Tawakkal, yang terakhir adalah menyerahkan segala hasil kepada Allah Azza wa Jalla. Munajat dan doa, serta segala harapan hanya kepada Allah semata. Hal ini menyempurnakan ikhtiar dalam mendidik. Karena setiap insan adalah ciptaan Allah, maka kita pasrahkan hanya kepada Allah saja segala urusan.

Demikian 6 cara atau tahapan agar sang pendidik bisa memberikan kesan yang baik. Yang Insya Allah akan memberikan dampak positif terhadap pendidikan.

Sebuah konsep hubungan kesan yang baik kepada manusia dan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Ada keseimbangan yang bagus dan lurus, agar terwujud sebuah harapan yang diinginkan.

Semoga kita semua menjadi orang tua dan pendidik yang berakhlaq mulia, sehingga mampu memberikan kesan yang baik kepada putra-putri serta anak didik kita. Hidup hanya satu kali, janganlah memberikan narasi dan kenangan yang buruk, bahkan kebencian abadi, na’udzubillhi mindzalik.