“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS. Al Ghasiyah: 17-21)

 

Suarahati.org, Sidoarjo – Saat itu Rasul sedang bersama untanya di tengah terik matahari. Hingga untanya mulai merasa berat dan menurunkan badannya, lalu turunlah surat ini. “Tidakkah kalian perhatikan tentang penciptaan unta“. Di dalam surat ini Allah menyebutkan unta dengan kata ‘ibl‘. Di dalam Alquran sendiri ada 21 kata yang menyebut tentang unta. Unta hidup di suatu tempat yang sangat sulit untuk makhluk lain hidup, yakni padang pasir. Di bawahnya adalah pasir yang menerima panas dan memancarkannya (panas dari atas dan dari bawah). Namun unta tampak selalu nyaman walaupun itu terlihat ekstrim, bahkan oleh manusia mereka diberi beban. Perhatikan wajah unta. Ia tidak memiliki wajah yang ekstrem atau menakutkan, tapi justru wajah iba. Hewan memamah biak, herbivore, cenderung emosinya lebih stabil, tidak seperti hewan karnivora. Pelajaran penting untuk manusia adalah bahwa apa yang kita makan akan mempengaruhi emosi kita.

 

Struktur Tubuh Unta untuk Daerah Ekstrem

Satu- satunya hewan yang bisa hidup di berbagai habitat. Tidak seperti hewan di daerah kutub, misalkan beruang kutub (kecuali diberi perlakuan khusus sehingga mereka bisa ada di taman safari). Beda dengan unta, tanpa perlu perlakuan khusus mereka bisa hidup di manapun. Mereka sudah terbiasa terkena panas di siang hari dan dingin di malam hari, masyaa Allah. Kenapa? Karena tapak kakinya. Tapak kakinya sebagai isolator sehingga panasnya pasir tidak mengenai tubuhnya. Jarinya hanya dua. Ini membantu menjadi bantalan saat ada beban berat, sehingga tidak terbenam di pasir yang strukturnya longgar. Struktur tubuh unta pun tinggi, tapi Allah buat unta itu mau jongkok jika kita memberikannya beban. Dan Allah ciptakan bantalan yang hampir sama seperti di tapak kakinya dibagian dengkul. Sehingga saat dia jongkok/menundukkan dirinya, tidak tersentuh panas. Bagian ini disebut Callus. Bentuk jongkoknya pada bagian dengkulnya, ibarat saat kita duduk diantara dua sujud. Allahu Akbar.

 

Punuk sebagai Persediaan Makanan

Punuk unta berisi lemak dan menyediakan kemampuan sebagai tempat menyimpan makanan. Unta berjalan 3 minggu, bisa menempuh jarak 500-1000 km. Tanpa ketakutan tidak akan mendapat rezeki karena sudah dijamin Allah. Di tengah gurun, ada tempat pengisian bahan makanan seperti oase. Ia tidak perlu air yang bersih, yang penting dapat diminum oleh tubuhnya. Ia tidak pernah mencela makanan dalam kondisi se-ektrem apapun

 

Bulu Penyekat Panas

Bulunya yang tebal justru menahan penguapan. Padahal di mana-mana kalau panas, kita tidak mau memakai selimut yang ada bulu tebalnya karena akan menyebabkan semakin panas. Bulu ini tidak hanya melindungi tubuhnya dari kondisi cuaca dingin dan panas, tapi juga menghindari kehilangan air tubuhnya walaupun suhu 50 derajat, ia justru tidak malas. Selalu semangat. Apalagi saat jamaah haji lagi banyak-banyaknya. Berbeda sekali dengan manusia kebanyakan. Ia pun bisa hidup di suhu minus 50 derajat celcius.

 

Kepala yang Terlindung dari Pasir

Bulu mata yang berbentuk dua sisir terpisah yang saling melekat. Melentik dan panjang. Sehingga kalau matanya ditutup, struktur bulu matanya diatas akan berseling menutup bagian bawah. Masyaa Allah.

Hidung dan telinganya pun ditutup oleh rambut sehinga butiran pasir walaupun ada badai, dapat melindungi lobang-lobang yang ada di wajahnya.

 

Ketahanan dari Lapar dan Dahaga

Tidak ada hewan yang hidup di lingkungan yang ekstrem yang dapat hidup dengan sumber makanan yang ekstrem juga, kecuali unta. Siapa yang bisa makan tumbuhan padang pasir yang daunnya berduri, kecuali unta? (seperti kisah makanan penghuni neraka dalam Al Qur’an). Bibir yang lebar dan lentur seperti karet, untuk makan tumbuhan berduri.

Unta juga memiliki pemanfaatan air yang canggih. Unta dapat me-recycle lagi urinnya menjadi air murni. Urinnya pun dibuang perlahan-lahan agar dapat menjaga metabolisme tubuh. Urin yang terbuang, digunakan lagi. Makanya ketika ada penyakit yang tersebar di masyarakat, Rasulullah menyuruh sahabatnya minum susu unta plus urinnya. Masyaa Allah.

 

Sistem Homeostatis yang baik. 

Rasulullah punya 2 makanan kegemaran yakni madu dan susu (susu unta).

Sudah ada penelitian yang masuk jurnal yang membuktikan urin unta bisa untuk kanker, lebih mengencerkan darah. Contoh penelitian:

  • Screening the anti-infectivity potential of native-N and C-lobes derived from the camel lactoferim
  • The Antidiabetic Action of Camel Milk in Experimental Type 2 Diabetes

 

Teladan Sayangnya Rasulullah pada Makhluk hidup

Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta. Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah Saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah Saw mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam. Kemudian dengan wajah penuh kemarahan, Rasulullah Saw bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?” Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar. “Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya. Rasulullah Saw berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.” Subhanallah! Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah Saw bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas habis dengan pekerjaan yang sangat berat. Kisah ini bersumber dari hadits nomor 2186 yang diriwayatkan Abu Dawud.

Alhamdulillah, semoga menambah khazanah keilmuan kita.

(Ustadz Dr. Anom Bowolaksono, M.Sc.)
Suarahati.org

 

 

 

 

SHARE ARTIKEL !
6Shares
6Shares