Suarahati.org, Sidoarjo – Saat ini, gadget berupa smartphone maupun tablet sudah kian dikenal oleh kalangan anak-anak. Menurut survey dari Indonesia’s Hottest Insight (IHI), ternyata, 35% anak-anak menginginkan smartphone terbaru. Tidak heran, karena 40% anak-anak memang sudah memiliki ponsel sendiri. Berbeda dengan zaman dulu, anak-anak masa kini sudah melek gadget, entah itu smartphone atau tablet. Kemunculan fenomena gadget ini melahirkan anak-anak generasi audio visual. Sebenarnya, apakah anak-anak sudah siap memiliki gadget? Berikut ini tips kapan sebaiknya memperkenalkannya kepada anak.

 

Tunggu sampai anak berumur 2 tahun

Meski anak usia di bawah dua tahun sedang senang-senangnya menekan tombol dan menonton video, tidak berarti mereka sudah siap  menggunakan gadget. Menurut Dr. Carolyn Jaynes, pakar dari perusahaan mainan edukasi, Leapfrog Enterprises, cara belajar terbaik untuk anak usia di bawah dua tahun adalah melalui interaksi dan berekplorasi dengan dunia nyata. Menghabiskan waktu di depan layar, tentu akan mengurangi aktivitas menggunakan panca indranya. Bereksplorasi di usia balita merupakan proses terbaik dalam masa pertumbuhan. Dikatakan Carolyn, seorang anak akan siap bermain dengan gadget pada umur empat hingga lima tahun. Di usia tersebut, anak sudah dapat menggunakan gadget selama orang tua mendampinginya beraktivitas dengan perangkatnya.

 

Perlunya pendampingan orang tua

Jika anak sudah siap bermain dengan gadget, sangat disarankan agar orang tua selalu mendampingi anaknya dalam beraktivitas dengan “mainan baru” nya. Sebaiknya, interaksi dengan gadget maupun komputer dilakukan dalam ruang keluarga. Seperti yang dikatakan psikolog Tika Bisono, jangan membiarkan anak-anak menggunakan gadget di kamar mereka. Dengan begitu, orang tua dapat selalu memonitor dan menemani aktivitas anak saat mencoba aplikasi baru. Sebab, tak jarang ada game ber-genre dewasa yang ikut tampil saat anak ingin mengunduh game dari apps store, seperti Google Play Store atau Apple Store. Bahkan, ada iklan game dewasa yang tiba-tiba muncul saat Anda terhubung dengan internet. Akan bahaya akibatnya jika anak sampai mengklik game tersebut tanpa sepengetahuan orang tua.

 

Batasi waktu

Batasi waktu bermain anak dengan gadget-nya. Untuk anak usia empat hingga lima tahun, sebaiknya tidak lebih dari setengah jam dan untuk anak usia enam hingga tujuh tahun, tidak lebih dari sejam. Terlalu lama berhadapan dengan layar gadget dapat mengakibatkan kerusakan pada mata anak. Sebagai orang tua, tentu Anda tidak menginginkan anak Anda terlalu cepat menggunakan kaca mata, bukan? Jika perlu, terapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit setelah bermain, alihkan pandangan ke tempat lain selama 20 detik pada jarak 20 kaki.

 

Konten yang sesuai

Perhatikan aplikasi yang sesuai dengan umur anak. Untuk pengguna iPad dan android kini tersedia beberapa game edukasi yang bersifat interaktif untuk melatih daya ingat dan berpikir, seperti puzzle, menggambar, mewarnai, dan lain sebagainya. Namun tetap dampingi anak dalam memilih game yang dia sukai.

 

Menunjang kurikulum

Untuk anak usia sekolah, usahakan penggunaan smartphone atau tablet yang menunjang kegiatan belajar. Dengan aplikasi yang menunjang kurikulum pelajaran, anak dapat lebih bereksplorasi mengenai tata surya, lingkungan alam, dan aplikasi lainnya yang tidak ada di buku sekolah.

 

Berikan handphone yang sederhana

Untuk menghindari sikap pamer, orangtua cukup memberikan handphone yang fiturnya sesuai fungsi dan kebutuhan (untuk sesuatu yang sangat signifikan saja), bukan ajang gaya-gayaan atau bersaing mengikuti tren. Esensi atau tujuan utama pemberian handphone pada anak sebetulnya adalah untuk kepentingan komunikasi dengan orangtua sehingga tidak perlu yang canggih, dan sebaiknya hindari memberi handphone yang banyak game-nya karena bisa jadi bumerang. Kalau anak sudah kecanduan, dia bisa sembunyi-sembunyi main game, bahkan saat di sekolah. Kalau tipe handphone yang dimiliki terlalu canggih, anak bisa tergoda untuk memakai semua fasilitas yang ada dan bisa berakibat pada melonjaknya pulsa. Selain itu, mereka dikhawatirkan melakukan kenakalan-kenakalan yang sulit dikontrol. Benteng terbaik adalah nilai agama dan norma. Selain itu, kedekatan dengan orangtua juga penting sehingga anak bisa terbuka.

Selain mendampingi anak dalam menggunakan gadget, orang tua juga harus memberi contoh bagi anak dengan selalu memberikan waktu bermain yang berkualitas dengan anak dan membatasi penggunaan smartphone atau tablet di depan anak. Dunia nyata adalah tempat terbaik untuk belajar membangun kemampuan kognitif, sosial, dan kemampuan berbicara si kecil. Ajarkan anak dalam memanfaatkan gadget dengan baik, salah satunya memanfaatkan kamera pada gadget untuk memotret serangga. Setelah itu, orang tua dan anak dapat melakukan pencarian informasi detail bersama-sama mengenai serangga tersebut. Jangan lupa, ada baiknya tetap memperkenalkan anak dengan kegiatan membaca buku atau bereksplorasi dengan dunia luar. Demikian, semoga bermanfaat.

 

(erin, dari berbagai sumber)

 

 

 

 

SHARE ARTIKEL !
0Shares
0Shares